Menerima nasihat membutuhkan tawaduk, sedangkan memberikan nasihat membutuhkan keikhlasan. Jangan hanya mencari orang yang memuji kita; kita juga membutuhkan orang tulus yang berani menunjukkan kekurangan kita.
Nasihat Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengajarkan satu perjalanan yang saling berhubungan: pilihlah lingkungan yang baik, kuatkan iman dan keyakinan, tuntutlah ilmu, amalkan ilmu, kemudian didiklah jiwa dengan mujahadah. Sahabat yang saleh bukan hanya orang yang membuat kita nyaman bersamanya, tetapi orang yang kehadirannya membantu kita semakin mengenal Allah dan berani melawan kelemahan diri.
Nasihat ini menggambarkan sebuah perjalanan: Khalwat yang benar → kejernihan hati → pandangan menjadi ibrah → hati hidup dengan tafakur → dunia tidak lagi menghijab → akhirat semakin nyata → ruh semakin dekat kepada Allah. Jadi, ukuran kemajuan ruhani bukan seberapa lama seseorang mampu menyendiri, tetapi seberapa jauh khalwat itu mengubah cara hatinya memandang kehidupan. Ketika mata melihat dunia tetapi hati membaca akhirat, ketika tangan tetap bekerja tetapi hati tidak bergantung kepada
Nasihat ini menggambarkan perjalanan manusia menuju Allah secara runtut: التَّنَبُّهُ → التَّدَيُّنُ → صُحْبَةُ الصَّالِحِينَ → الطَّاعَةُ Sadar dari kelalaian → memperbaiki agama → bergaul dengan orang saleh → tumbuh dalam ketaatan. Jangan menunggu sakit untuk menghargai sehat, jangan menunggu kehilangan untuk mengenal nikmat, jangan menunggu tua untuk bertobat, dan jangan menunggu kematian untuk mengetahui hakikat dunia. Orang yang benar-benar cerdas bukan hanya orang yang mengetah
Nasihat Syekh Abdul Qadir al-Jailani ini menggambarkan perjalanan ruhani yang sangat dalam. Allah terlebih dahulu mempersiapkan hamba-Nya. Persiapan itu terutama terjadi pada batin: iman diperkuat, tawakal ditumbuhkan, hati dibersihkan, dan ketergantungan kepada makhluk dikurangi. Dari kesiapan batin tersebut lahirlah zuhud yang sebenarnya. Seorang hamba tetap hidup di dunia, bekerja, berkeluarga, memiliki harta, dan berkhidmah kepada manusia, tetapi semua itu tidak mengambil tempat Allah di
“Ambillah sebab tanpa menggantungkan hati kepadanya; carilah rezeki tanpa melupakan Sang Pemberi; dan beramallah tanpa mengharapkan selain Allah. Sebab berada di tangan, rezeki berada dalam ketetapan-Nya, dan Allah tetap menjadi tujuan hati.” “Tulisan ini dikembangkan dari kajian Kitab Fathur Rabbani karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani.”hal.23
