AKHLAK MULIA BERAWAL DARI HATI, DIKUATKAN DENGAN SYUKUR DAN SABAR
-
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِله الَّذِي أَصْلَحَ الْقُلُوبَ بِالْإِيمَانِ، وَزَيَّنَ النُّفُوسَ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ، وَجَعَلَ الشُّكْرَ سَبَبًا لِزِيَادَةِ النِّعَمِ، وَالصَّبْرَ سَبَبًا لِعَظِيمِ الْأَجْرِ وَالثَّوَابِ.
نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَى، وَنَشْكُرُهُ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ، وَنَسْأَلُهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوبَنَا، وَيُحَسِّنَ أَخْلَاقَنَا، وَيَجْعَلَنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ الصَّابِرِينَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمُرْسَلَ لِتَتْمِيمِ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ .فَازَ الْمُتَّقُونَ.قال تعالى يا أيها الذين امنوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Ketakwaan bukan hanya terlihat dari banyaknya ibadah yang kita lakukan, tetapi juga harus tercermin dalam bersihnya hati dan mulianya akhlak.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak."
Hadis ini mengingatkan kita bahwa salah satu misi besar diutusnya Rasulullah ﷺ adalah memperbaiki akhlak manusia.
Akhlak bukan hanya tentang bagaimana seseorang berbicara.
Akhlak juga bukan hanya tentang bagaimana seseorang berpakaian.
Akhlak adalah bagaimana kita memperlakukan orang lain, bagaimana kita menjaga lisan, bagaimana kita menggunakan harta, bagaimana kita menghadapi perbedaan, bagaimana kita menghadapi ujian, bahkan bagaimana kita bersikap ketika tidak ada seorang pun yang melihat kita.
Namun jamaah yang dirahmati Allah,
Dari mana akhlak itu berasal?
Akhlak yang baik berawal dari hati yang baik.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
"Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati."
Hati ibarat raja, sedangkan anggota badan adalah rakyatnya.
Jika rajanya baik, rakyatnya akan baik.
Jika rajanya rusak, rakyatnya pun akan rusak.
Demikian pula diri kita.
Karena itu, kalau kita ingin memperbaiki perilaku, jangan hanya memperbaiki yang tampak. Perbaikilah sesuatu yang tidak tampak, yaitu hati.
Kadang kita sangat sibuk memperbaiki penampilan. Wajah dirawat, pakaian diperindah, rambut dirapikan. Tetapi hati lupa dirawat.
Padahal wajah yang indah akan terlihat oleh manusia, sedangkan hati yang bersih akan dinilai oleh Allah. Allah tidak melihat rupa dan harta kita, tetapi Allah melihat hati dan amal kita.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Para ulama mengajarkan kepada kita proses penyucian jiwa yang dikenal dengan takhalli, tahalli, dan tajalli.
Takhalli, yaitu mengosongkan hati dari sifat-sifat buruk. Buang iri, dengki, sombong, ujub, dendam, dan buruk sangka.
Kemudian tahalli, yaitu menghiasi hati dengan sifat-sifat terpuji. Isi hati dengan ikhlas, tawadhu, kasih sayang, pemaaf, syukur dan sabar.
Kemudian tajalli, yaitu ketika kebaikan yang ada di dalam hati mulai terpancar dalam perilaku kita.
Hati yang bersih akan terlihat dari lisannya.
Hati yang bersih akan terlihat dari sikapnya.
Hati yang bersih akan terlihat dari bagaimana ia memperlakukan sesama.
MA'ASYIRAL MUSLIMIN RAHIMAKUMULLAH
Ada dua sifat yang sangat penting untuk kita tanamkan dalam hati, yaitu syukur dan sabar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.
Maka orang beriman memiliki dua keadaan:
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Syukur bukan hanya mengucapkan Alhamdulillah.
Syukur memiliki tiga bentuk.
Pertama, syukur dengan hati, yaitu meyakini bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah.
Kesehatan kita milik Allah.
Umur kita milik Allah.
Keluarga kita milik Allah.
Harta kita milik Allah.
Bahkan setiap tarikan napas kita adalah nikmat dari Allah.
Allah berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
Kedua, syukur dengan lisan.
Jagalah ucapan.
Perbanyak Alhamdulillah dan perkataan yang baik.
Jangan sampai lisan kita mengucapkan Alhamdulillah, tetapi sebentar kemudian mengeluhkan semua pemberian Allah.
Ketiga, syukur dengan perbuatan.
Gunakan nikmat Allah untuk ketaatan.
Diberikan ilmu, gunakan untuk mengajar.
Diberikan harta, gunakan untuk berbagi.
Diberikan kesehatan, gunakan untuk beribadah.
Diberikan umur panjang, gunakan untuk memperbanyak amal saleh.
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ
Kalau kita mempunyai sepeda motor, jangan hanya melihat orang yang mempunyai mobil.
Lihat orang yang masih berjalan kaki.
Kalau kita mempunyai rumah sederhana, jangan hanya melihat rumah orang yang lebih besar.
Lihat orang yang belum mempunyai rumah.
Kalau hari ini kita masih bisa makan, jangan hanya melihat orang yang makan di restoran.
Ingat, masih banyak saudara kita yang kesulitan mendapatkan makanan.
Karena kalau kita selalu melihat ke atas, leher yang sakit.
Tetapi kalau kita belajar melihat ke bawah, hati yang bersyukur.
Sifat kedua adalah Sabar
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Selain syukur, kita membutuhkan sabar.
Setiap manusia ingin hidup bahagia.
Kita ingin sehat, ingin kaya, ingin panjang umur, ingin keluarga harmonis, ingin usaha lancar.
Tetapi tidak semua yang kita inginkan sesuai dengan kenyataan.
Kadang kita ingin sehat, Allah memberikan sakit.
Kita ingin rezeki lancar, ternyata ada hambatan.
Kita ingin hidup tenang, ternyata datang ujian.
Di situlah kita membutuhkan sabar.
Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Perhatikan jamaah.
Allah tidak mengatakan pahala orang sabar sedikit.
Allah tidak mengatakan hanya sepuluh kali lipat.
Tetapi Allah mengatakan:
بِغَيْرِ حِسَابٍ
Tanpa batas.
Karena sabar itu berat.
Sabar bagi seorang suami yang bekerja mencari nafkah.
Sabar bagi seorang istri dalam mengurus keluarga.
Sabar bagi orang tua dalam mendidik anak.
Sabar bagi guru dalam mendidik murid.
Sabar bagi seorang dai dalam berdakwah.
Namun sabar bukan berarti menyerah.
Sabar adalah tetap berusaha dalam kebaikan meskipun hasil belum sesuai dengan keinginan.
Maka jangan cepat mengeluh.
Sebab boleh jadi sesuatu yang kita anggap sebagai ujian justru menjadi jalan Allah untuk mengangkat derajat kita.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Sebagai penutup dari khutbah ini Mari kita berdoa serta istiqomah dalam menjalankan dua sifat yakni
Ketika mendapatkan nikmat, bersyukur.
Ketika mendapatkan ujian, bersabar.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang memiliki hati bersih dan akhlak mulia.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
